Hormon Metabolic (Insulin) | Diet Sehat

Hormon Metabolic (Insulin)

Kita sudah sering mendengar tentang insulin pada masa kepopuleran diet rendah karbohidrat. Dan untuk alasan yang bagus. Masalah dengan insulin merupakan akar penyebab dari beberapa kondisi kesehatan yang paling berbahaya, karena insulin memengaruhi hampir semua sel di tubuh. Jika anda dapat mengendalikan naik dan turunnya insulin, anda akan berada di jalan yang benar menuju pemulihan kekuatan hormon tubuh anda.

Dari mana asal insulin: pancreas.

Bertengger di belakang perut anda, pancreas memainkan peran penting dalam cara tubuh bereaksi terhadap makanan.

Bagaimana insulin memengaruhi metabolism:

fungsi insulin yang paling penting adalah menurunkan konsentrasi glukosa dalam darah anda. Segera setelah anda makan, terutama karbohidrat yang terlalu diolah, makanan diuraikan menjadi gula-gula sederhana dan dilepaskan ke dalam aliran darah. Dalam beberapa menit, pancreas memompa serangkaian lonjakan insulin. Insulin kemudian mengantar gula-gula tersebut ke lever (hati). Mereka kemudian diubah menjadi glikogen untuk digunakan oleh otot. Insulin juga membantu mengubah glukosa menjadi asam lemak dan mengantarkan mereka ke sel-sel lemak. Mereka akan disimpan sebagai cadangan bahan bakar. Kedua aktivitas ini menurunkan kadar gula dalam darah yang sangat penting.

Sementara kadar tinggi glukosa darah memicu pelepasan insulin, kadar gula yang rendah menekannya. Menjaga kadar insulin tetap rendah – salah satu tujuan utama diet ini – akan lebih mempermudah anda menggunakan simpanan lemak sebagai bahan bakar. (olahraga juga membantu sel-sel otot anda menjadi lebih sensitive terhadap insulin dan lebih efisien dalam menggunakan glukosa untuk bahan bakar). Ketika mekanisme pelepasan insulin anda bekerja dengan cara yang benar, itu membantu anda menjaga berat badan terkendali. Namun, ketika mekanisme itu tidak bekerja, waspadalah!

Bagaimana insulin bisa kacau: masalah muncul ketika tubuh anda mulai membuat terlalu banyak insulin, yang dapat terjadi karena beberapa alasan. Anda mungkin bisa menebak yang paling umum: yaitu ketika anda makan terlalu banyak karbohidrat yang salah terlalu sering, terutama karbohidrat olahan seperti roti putih atau pasta, yang meningkatkan gula darah anda secara dramatis. Untuk mengatasi peningkatan ini, pancreas melepaskan jumlah proporsional insulin untuk mengangkut semuanya ke dalam sel.

Sebagai contoh, anda baru saja memasukkan sebatang cokelat saat perut kosong. Lonjakan gula darah anda kemudian begitu dramatis sehingga insulin bereaksi berlebihan dan bekerja dua kali lebih keras untuk membersihkan gula dari darah. Pembuangan gula yang kelewat efisien ini tidak meninggalkan cukup glukosa yang beredar dalam aliran darah anda, sehingga konsentrasi gula darah anda turun, dan anda merasa lapar lagi. Akibatnya, anda mengidam (dan mungkin makan) lebih banyak karbohidrat. Itulah siklus “kebangkrutan-dan-pesta” setelah mengonsumsi gula yang menjadi akar kecanduan gula.

Ketika otot masih terisi oleh makanan ringan terakhir, di mana insulin menempatkan kalori ekstra yang baru? Langsung menjadi lemak. Selama sejumlah besar insulin ini masih bersembunyi di aliran darah, tubuh anda tidak akan memiliki kesempatan untuk menyedot lemak simpanan anda sebagai bahan bakar- sehingga anda tidak akan membakar lemak apapun.

Jika anda mengulangi siklus ini cukup sering, pankreas akan mengimbangi berlebihan dan menghasilkan lebih banyak insulin, yang pada akhirnya akan mulai diabaikan oleh sel-sel anda. Ini disebut resistensi insulin, gejala awal diabetes tipe 2 yang umum terjadi di kalangan orang-orang dengan sindrom metabolik dan kelebihan berat badan. Berbalik arah di pintu otot, gula dibiarkan berkeliaran di jalan-jalan darah anda, tanpa tujuan dan tanpa rumah.

Jika gula tak berumah ini beredar di aliran darah terlalu lama, dokter menyebut ini gangguan glukosa puasa (jika diukur di pagi hari) atau gangguan toleransi glukosa (jika diukur dua jam setelah makan). Jika dibiarkan, kedua kondisi ini akhirnya dapat menyebabkan diabetes meledak penuh.

Semakin banyak lemak tubuh yang anda miliki, semakin banyak insulin dalam otak anda. Sebagaimana yang terjadi pada tubuh kita, pada otak juga dapat terjadi resistansi insulin. Sebuah penelitian longitudinal menemukan bahwa pria yang memiliki masalah respons insulin di usia lima puluh lebih, memiliki kemungkinan penurunan kognitif, demensia vascular, atau Alzheimer dalam tiga puluh lima tahun kemudian daripada pria yang memiliki respons insulin normal.

Meskipun anda mungkin pernah mendengar bahwa obesitas menyebabkan resistansi insulin dan diabetes – dan memang benar – urutan yang masuk akal adalah bahwa resistansi insulin terjadi lebih dulu, meningkatkan produksi insulin dan gula darah, serta membuat orang jadi gemuk.

Author: Anisa Akmal

Andi Khaerunnisa, S.Gz Ahli Gizi dan Nutrisi untuk mendukung program Diet Sehat

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *