Norepinefrin, Epinefrin, Dan Kortisol | Diet Sehat

Norepinefrin, Epinefrin, Dan Kortisol

Hormon bertempur atau kabur dapat membantu kita keluar dari beberapa keadaan yang cukup menantang. Mereka membantu kita memenuhi tenggat waktu, menyelamatkan balita dari tersandung saat menuruni tangga, dan berlari untuk mengejar bus. Namun, sementara efek dari epinefrin dan norepinephrine yang memacu jantung amat singkat, mereka “mewariskan” kortisol penyimpan lemak yang lebih langgeng dan mematikan.

Di mana norepinefrin, epinefrin, dan kortisol diproduksi:

Kelenjar adrenal. Kortisol, disebut juga hidrokortison, diproduksi di korteks adrenal, bagian luar dari kelenjar adrenal. Bagian dalam kelenjar adrenal, medulla adrenal, menghasilkan hormon stress primer lainnya, yaitu norepinefrin (yang membatasi pembuluh darah, membuat tekanan darah meningkat) dan epinefrin (yang meningkatkan denyut jantung dan aliran darah ke otot). Tiap-tiap hormon stress ini dilepaskan dalam kadar yang berbeda berdasarkan tantangan yang anda hadapi.  Jika melihat tantangan yang anda pikir bisa ditangani, adrenal melepaskan norepinedrin lebih banyak. (Dan setelah menang, anda melepaskan testosterone lebih banyak saat menikmati kemenangan). Jika anda menghadapi tantangan yang tampaknya lebih sulit, sesuatu yang tidak yakin dapat anda kuasai, anda melepaskan epinefrin lebih banyak, si “hormon kecemasan”. Namun, bila anda kewalahan, benar-benar putus asa, dan yakin anda mengacau, anda melepaskan kortisol lebih. Perbedan tersebut telah membuat beberapa peneliti untuk menyebut kortisol sebagai “hormon kekalahan”.

Bagaimana norepinefrin, epinefrin, dan kortisol berdampak terhadap metabolisme:

Ketika anda pertama kali stress, norepinefrin akan memerintahkan tubuh untuk menghentikan produksi insulin sehingga anda dapat memiliki banyak glukosa darah yang siap bertindak cepat. Demikian pula, epinefrin akan mengendurkan otot-otot perut dan usus serta mengurangi aliran darah ke organ-organ ini. (Tubuh anda memahami untuk lebih fokus pada menyelamatkan hidup anda daripada mencerna makanan). Dua tindakan ini menyebabkan gula darah tinggi dan masalah perut yang terkait dengan stress.

Setelah stress berlalu, kortisol memberitahu tubuh untuk berhenti memproduksi hormon ini dan melanjutkan pencernaan. Namun, kortisol terus memiliki dampak yang besar terhadap gula darah anda, khususnya mengenai bagaimana tubuh menggunakan bahan bakar. Sebagai hormon katabolic, kortisol memberitahu tubuh anda mengenai lemak, protein, atau karbohidrat apa yang perlu dibakar dan kapan harus membakar mereka, tergantung pada jenis tantangan yang anda hadapi. Kortisol dapat mengambil lemak anda dalam bentuk trigliserida dan memindahkannya ke otot anda, atau memecah otot dan mengonversinya menjadi glikogen untuk lebih banyak energi. (Bukan itu saja yang dipecah kortisol. Kelebihan kortisol juga mendekonstruksi tulang dan kulit, menyebabkan osteoporosis, mudah memar, rengangan kulit, hiiii…)

Sementara, epinefrin (alias adrenalin) dari stress akut buru-buru menekan nafsu makan –  siapa pula yang benar-benar ingin makan kalau sedang dibentak oleh pengganggu? –  sisa kortisol yang berkeliaran setelah kejadian akan meransang nafsu itu. Jika anda belum merilis kelebihan kortisol dalam darah anda dengan balas membentak atau melarikan diri, kortisol akan meningkatkan keinginan anda untuk makan makanan tinggi lemak dan karbohidrat. Kortisol juga menurunkan kadar leptin dan menaikkan kadar neuropeptide Y (NPY), perubahan yang terbukti meransang nafsu makan.

Setelah anda makan, tubuh anda akan melepaskan aliran memuaskan kimia otak yang dapat membangun hubungan adiktif dengan makanan. Jadi, jika anda merasa stress, anda makan. Tubuh anda melepaskan opioid alami, anda merasa lebih baik. Jika anda secara tidak sadar menghindari pola ini, anda bisa menjadi tergantung secara fisik dan psikologis pada pelepasan ini untuk mengelola stress. Bukan kebetulan bahwa si orang yang mengusir stress dengan makanan ini cenderung memiliki reaksi epinefrin yang sangat cepat dan kadar kortisol tinggi kronis.

Ketika stress berlanjut untuk waktu yang lama, dan tingkat kortisol tetap tinggi, tubuh benar-benar menolak menurunkan berat badan. Tubuh mengira anda sedang mengalami masa sulit dan anda mungkin kelaparan. Jadi, dengan rakus ia menimbun makanan yang anda konsumsi dan lemak yang sudah ada dalam tubuh anda. Kortisol juga mengubah adiposity, sel-sel lemak muda, menjadi sel-sel lemak matang yang menempel bersama kita selamanya.

Kortisol cenderung mengambil lemak dari bagian yang sehat, seperti bokong dan pinggul, serta memindahkan ke perut anda, yang memiliki resepstor kortisol lebih. Dalam prosesnya, ini mengubah lemak perifer yang semula sehat menjadi lemak visceral tidak sehat yang meningkatkan peradangan dan resistansi insulin dalam tubuh. Lemak perut ini kemudian menyebabkan lebih banyak kortisol karena ia memiliki konsentrasi yang lebih tinggi dari suatu enzim tertentu yang mengonversi kortisol tidak aktif menjadi kortisol aktif. Semakin banyak lemak perut yang anda miliki, semakin aktif kortisol akan dikonversi oleh enzim-enzim tersebut – lingkaran setan lain yang diciptakan oleh lemak visceral.

Bagaimana norepinefrin, epinefrin, dan kortisol bisa menjadi kacau:

Tergantung pada gen dan pengalaman di usia dini, beberapa orang mungkin beruntung memiliki reaksi adrenal yang sangat santai dalam situasi stress. Bagaimana pun, banyak orang cenderung bereaksi berlebihan, bahkan pada ancaman kecil, karena putaran umpan balik stress menjadi lebih kuat dan lebih kuat dengan setiap pengalaman negatif di masa lalu. Pada saat orang-orang ini dewasa, sistem tubuh mereka telah sangat sensitive dalam merespon stress.

Ransangan berlebihan kronis pada adrenal kita adalah epidemi di Negara ini. Kita adalah korban sekaligus pecandu stress. Tubuh kita membayar harganya. Aktivasi sistem stress jangka panjang memiliki efek mematikan pada tubuh. Ketika anda menyalahgunakan adrenal sebanyak yang kita lakukan, anda menetapkan diri untuk penyakit jantung, diabetes, stroke, dan kondisi berpotensi fatal lainnya. Bahkan, sebelum sampai di sana, anda bisa benar-benar merusak adrenal anda.

“kelelahan adrenal” adalah istilah trendi yang cukup sering diucapkan dewasa ini. Pengobatan utama belum secara resmi megakui sindrom ini (seharusnya ditandai oleh insomnia, kenaikan berat badan, depresi, jerawat, rambut rontok, mengidam karbohidrat, dan menurunnya fungsi kekebalan tubuh), tetapi beberapa ahli endokrin telah membangun praktik mereka untuk membantu pasien membalikkan gejala ini.

 

 

Author: Anisa Akmal

Andi Khaerunnisa, S.Gz Ahli Gizi dan Nutrisi untuk mendukung program Diet Sehat

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *