Obat Hypertensi Menimbulkan Komplikasi | Diet Sehat

Obat Hypertensi Menimbulkan Komplikasi

Di dunia pengobatan modern, obat hipertensi berfungsi menurunkan tekanan darah secara artifisial dan menjaganya agar tetap normal. Obat itu seolah hanya menurunkan tekanan darah secara paksa dan tidak memedulikan penyebab naiknya tekanan darah. Oleh karena itu, obat hipertensi disebut juga sebagai “chlorotiazide”. Prinsip metodenya dapat diringkas sebagai berikut.

  • Metode pelebaran pembuluh darah: Vasodilator, Alpha Blockers, ACE (Angio-tensin Converting Enzyme) Inhibitors, Calcium Channel Blockers, dan ARB (Angiotensin II Receptor Blockers).
  • Metode pengurangan volume darah: Pil diuretik.
  • Metode penurunan aktivitas jantung: Beta Blockers.

Seandainya satu jenis obat tidak mampu menormalkan tekanan darah, biasanya dokter akan meresepkan obat tambahan jenis lain. Umumnya, itulah penyebab banyak pasien meminum obat lebih dari dua jenis.

Namun, obat hipertensi bisa menimbulkan efek samping serius. Penderita diabetes, kolesterol tinggi, gagal jantung, asma, dan penyakit paru-paru kronis tidak diperbolehkan mengonsumsi obat hipertensi karena obat ini dapat menimbulkan efek samping, seperti komplikasi. Obat penurun kolesterol juga dapat menyebabkan umur pendek, demensia, serangan jantung, dan stroke. Banyak penderita yang mengalami impotensi akibat mengonsumsinya dalam jangka panjang. Hal itu dikarenakan peredaran darah terganggu sehingga dapat menurunkan tekanan darah. Jantung pun tidak bisa memompa darah cukup ke pembuluh darah kapiler.

Pasien hipertensi bahkan sampai diberi obat kolesterol untuk mencegah terjadinya arteriosklerosis, tergantung kasusnya. Akibatnya, darah yang pekat akan menganggu peredaran darah. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya kolesterol tinggi dan arteriosklerosis. Bahkan komplikasi bisa timbul jika obat tersebut dikonsumsi dalam jangka panjang. Komplikasi yang muncul, antara lain diabetes, hepatitis, dan gagal ginjal. Selanjutnya, saya akan menjelaskan tentang beberapa obat hipertensi beserta khasiat dan efek sampingnya.

Calcium Channel Blockers

Obat ini menurunkan tekanan darah dengan menurunkan elastisitas pembuluh darah dan otot jantung. Namun, jika otot jantung melemah, kemampuan gerak tubuh juga akan melemah. Darah tidak bisa dialirkan keseluruh tubuh sehingga menyebabkan kebas atau kesemutan pada tangan dan kaki. Efek sampingnya, terjadi malaise parah (lesu), pusing, sembelit, ruam-ruam, nafsu makan hilang, hipotensi ortostatik, muka merah, sakit kepala, kepala berat, gangguan denyut jantung, sering buang air kecil, lutut bengkak, daya kontraksi leher rahim berkurang, reaksi alergi, cairan tubuh stagnan, kelelahan, impotensi (berfungsi hanya 20%), detak jantung tidak teratur, gagal ginjal, dan serangan jantung.

Pil Diuretik

Pil diuretik menurunkan tekanan darah dengan volume darah dan mempercepat pengeluaran cairan dan natrium melalui ginjal. Namun, fungsi ginjal akan melemah jika obat ini diminum dalam jangka panjang. Hal ini juga dapat mengakibatkan dehidrasi, sakit kepala ringan, kadar gula darah dan asam urat meningkat, otot melemah, dan kram akibat kurangnya kadar kalium. Efek samping lain yang dapat muncul adalah hilang gairah seksual, impotensi, reaksi alergi, sakit kepala, penglihatan buram, mual, muntah, dan diare. Kemungkinan timbulnya diabetes juga meningkat 11 kali lipat. Obat ini juga berpotensi menyebabkan encok dan menurunkan fungsi ginjal. Pil diuretik juga menyebabkan enselofasi hepatik (pada penderita dengan kondisi liver lemah), peningkatan kadar lipid kolesterol, badan lemah, kehausan, gangguan pencernaan, ruam-ruam, muka merah, dan dehidrasi. Penggunaan pil ini juga berisiko menyebabkan hilangnya kalium, magnesium, dan kalsium, serta menyebabkan terjadinya gagal ginjal, demensia, kelumpuhan, dan glukoma.

Beta Blockers

Obat-obatan jenis ini berfungsi menurunkan tekanan darah, mengendurkan arteri atau pembuluh nadi, serta menurunkan jumlah detak dan daya kontraktil jantung. Namun, jika dikonsumsi dalam jangka panjang akan menimbulkan berbagai efek samping. Misalnya, fisik melemah, kemampuan gerak menurun, dan detak jantung melambat. Jika output jantung berkurang, maka suplai darah dan oksigen ke otak, tangan, dan kaki menjadi terhambat. Efek samping yang sering terjadi adalah hipersensitif terhadap dingin, pusing, sering lelah, serangan jantung, gangguan mental, insomnia, depresi, tidak bertenaga, hilang gairah seksual, impotensi , dan nyeri saraf. Disamping itu, obat ini juga dapat meningkatkan kadar kolesterol dan trigliserida. Penderita hipertensi kemungkinan besar akan mengalami arteriosklerosis dan serangan jantung akibat kadar kolesterol yang meningkat.

Alpha Blockers

Obat-obatan jenis ini berfungsi menurunkan tekanan darah dan mengendurkan pembuluh darah. Caranya dengan mengisolir reseptor adrenalin pada otot yang menyusun pembuluh darah. Namun, jika dikonsumsi dalam jangka panjang, akan timbul gejala detak jantung meningkat, dada berdebar-debar, pusing, kehausan, bibir kering, mata merah, muka merah, edema (bengkak), sering buang air kecil, gelisah karena adanya infeksi atau penyakit, sakit kepala, dan gangguan fungsi sekesual. Obat ini juga melonggarkan kandung kemih. Hal ini bagus untuk penderita pembengkakan prostat. Namun, hal ini bisa menimbulkan inkontinensia (sering buang air kecil) pada wanita.

ACE Inhibitors dan ARB

Obat-obatan ini berfungsi menurunkan tekanan darah dengan mencegah Renin Angiotensin (R-A). R-A dapat meningkatkan tekanan darah, meningkatkan kerja saraf simpatik, mempercepat detak jantung, dan ¬†meningkatkan kontraksi pada pembuluh darah. Itulah respons dasar yang terjadi pada tubuh manusia ketika bertemu “musuh” atau menghadapi situasi genting. Namun, tekanan darah dapat turun dengan ACE Inhibitors dan ARB (Angiotensin II Receptor Blockers) yang mampu menghentikan respons tersebut.

Efek samping terbanyak dari ACE Inhibitors adalah batuk kronis. Sebanyak 20-30% penderita mengalami batuk kering jika mengonsumsinya selama seminggu hingga sebulan. Banyak pula pasien yang mengalami ruam-ruam, gatal-gatal, malaise, tidak bertenaga, nafsu makan hilang, dan albuminuria. Sering pula terjadi angioedema pada wajah, bibir, dan kerongkongan selama seminggu. Gejala ini bisa mereda setelah pederita berhenti mengonsumsi ACE Inhibitors.

Efek samping ARB mirip dengan ACE Inhibitors, yaitu hiperkalemia, hipotensi atau tekanan darah rendah, gangguan ginjal, dan angioederma. Tekanan darah akan menurun drastis sejak penderita mengonsumsi ACE Inhibitors. Hal ini menyebabkan terjadinya gejala hipotensi ortostatik, pusing, sakit kepala, dan dehidrasi. Khusus bagi penderita gangguan cairan darah—pada leukosit dan eritrosit—dan penderita gangguan ginjal akibat peningkatan kalium, harus berhati-hati dalam mengonsumsi obat ini. Ibu hamil tidak diperkenankan mengonsumsi obat ini pada masa awal kehamilan karena dapat menyebabkan terjadinya masalah pada perkembangan janin,bahkan keguguran.

Author: admin one

Share This Post On

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *